Kamis, 15 Desember 2011

Beasiswa Universitas

Universitas
Pendidikan tinggi di Indonesia dewasa ini telah memasuki era baru, suatu era kompetitif yang penuh tantangan karena adanya perubahan yang cepat. Tantangan dan persaingan yang ketat di era global menuntut adanya kualitas sumberdaya manusia yang kompeten dalam menjawab setiap permasalahan sekaligus memanfaatkan kesempatan yang ada. Berdasarkan pengalaman negara-negara lain yang lebih maju di Asia, seperti Jepang, Korea Selatan, atau China, menunjukkan bahwa penyelenggaraan pendidikan perguruan tinggi yang berkualitas berkorelasi secara signifikan dengan peningkatan kompetensi sumberdaya manusia secara keseluruhan yang pada akhirnya membentuk kompetensi bangsa yang tinggi dalam persaingan global.
Pendidikan tinggi merupakan salah satu faktor kunci dalam upaya memajukan kehidupan dan kesejahteraan masyarakat suatu bangsa. Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Nasional mendorong dan membantu beberapa universitas yang berpotensi untuk berproses menuju World Class University. Alasan utama menjadi World Class University secara filosofis adalah membantu lulusannya menjadi cepat tanggap dan mampu menyesuaikan diri dengan perubahan dunia yang begitu cepat. Bila tidak mampu menyesuaikan diri, hal ini bisa menjadi pengangguran dalam ekonomi global.
Istilah World Class University sering kita dengar dalam perbincangan, tetapi sampai sekarang belum ada definisi yang pasti tentang apa itu World Class University. Kelas dunia atau "world class" menurut kamus adalah "ranking among the foremost in the world, of an international standard of excellence" (menduduki ranking di antara yang terdepan di dunia, mempunyai standart keunggulan internasional). Dengan kata lain sebuah universitas yang telah menduduki ranking tertentu dapat diartikan telah masuk dalam kategori World Class University.
Menurut Philip G Albach dalam The Costs and Benefits of World Class Universities (2005) adalah universitas yang memiliki ranking utama di dunia dan memiliki standar internasional dalam keunggulan (exellence) mencakup :

  1. Keunggulan dalam riset yang diakui masyarakat akademis internasional melalui publikasi internasional.
  2. Keunggulan dalam tenaga pengajar (profesor) yang berkualitas tinggi dan terbaik dalam bidangnya.
  3. Keunggulan dalam kebebasan akademik dan kegairahan intelektual.
  4. Keunggulan manajemen dan governance.
  5. Fasilitas yang memadai untuk pekerjaan akademis (perpustakaan yang lengkap, laboratorium yang mutakhir).
  6. Pendanaan yang memadai untuk menunjang proses belajar mengajar dan riset.
  7. Keunggulan dalam kerjasama internasional dalam program akademis dan riset.
Lebih lanjut Altbach mengatakan bahwa keunggulan dalam bidang penelitian menjadi jantung konsep kelas dunia. Penelitan yang unggul adalah penelitan yang telah diakui oleh sesama ilmuwan dan yang memperkaya pengembangan ilmu pengetahuan. Karena penelitan adalah elemen utama, maka aspek-aspek lain dari universitas juga perlu mendukung terciptanya penelitian yang berkualitas. Oleh karena itu dosen-dosen yang berkualitas tentu saja sangat penting sehingga perlu diciptakan kondisi kerja yang baik. Penciptaan kondisi ini penting untuk meningkatkan semangat kerja.
Kebebasan akademik dan atmosfer intelektual juga sangat penting pada world class university. Ini berarti bahwa para dosen dan mahasiswa harus bebas mencari ilmu sampai di tingkat apapun dan mereka bebas mempublikasikan karya mereka tanpa takut sanksi, baik dari otoritas akademik atau otoritas luar perguruan tinggi. Di beberapa negara, kebebasan akademik dijamin sekali, tetapi di beberapa negara ada batasan-batasan tertentu, terutama yang berkaitan dengan masalah sosial politik.
Pengelolaan lembaga pendidikan tinggi juga penting. World class university mempunyai kemandirian di dalam mengelola urusannya sendiri, mempunyai tradisi yang mendarah daging, yang dapat menjamin bahwa masyarakat akademik (dosen, mahasiswa dan staf) memiliki pengaruh terhadap elemen utama kehidupan akademik, yaitu mahasiswa baru, kurikulum, kriteria kelulusan, pengangkatan dosen dan profesor dan arah utama karya akademik institusi tersebut.
Fasilitas yang memadai untuk kegiatan akademis juga penting. Riset dan pengajaran yang berkualitas harus memiliki akses terhadap perpustakaan dan laboratorium yang sesuai, serta akses ke internet dan sumber-sumber daya elektronik lainnya. Dengan semakin meningkatnya kompleksitas dan cakupan pengembangan sains, biaya untuk menyediakan akses tersebut menjadi lebih tingggi.
Dana adalah hal penting bagi perguruan tinggi. Dana ini tidak hanya diperlukan untuk setahun atau dua tahun. Ketersediaan dana itu harus konsisten dan bersifat jangka panjang. Dana ini tidak saja untuk tetap melakukan aktivitas penelitian dan pengajaran rutin saja, tetapi juga untuk terus menumbuhkan riset. Pendanaan merupakan tantangan khusus di lingkungan perguruan tinggi karena di banyak negara pemerintah mengurangi atau bahkan menarik pendanaan rutinnya dari perguruan tinggi. Tanpa kemampuan penggalaian dana yang baik, sulit mengembangkan dan mempertahankan predikat world class university. Di dalam konteks Indonesia, meningkatnya jumlah sumbangan penyelenggaraan pendidikan dan sejenisnya dirasa memberatkan bagi sejumlah kalangan (Sumber : http//esihairani.blogspot.com/2009/01/perguruan-tinggi-menuju-wolrd-class.html)
Kusumastanto (2007) dari IPB mengatakan terdapat beberapa kriteria world class university, diantaranya adalah 40% tenaga pendidik bergelar Ph.D, publikasi Internasional 2 paper/staff/tahun, jumlah mahasiswa pascasarjana 40% dari total populasi mahasiswa (student body), anggaran riset minimal US$ 1.300/staf/tahun, jumlah mahasiswa asing lebih dari 20% dan Information Communication Technology (ICT) 10KB/mhs.
Li Lanqing dalam bukunya "Education for 1.3 Billion" menggambarkan bahwa world class university adalah universitas yang mempunyai reputasi akademik yang mapan dan didukung sumberdaya akademik yang kaya. Adapun karakteristik world class university, meliputi :
  1. Mempunyai tim dosen dan pakar di bidangnya masing-masing yang diakui dunia.
  2. Kemampuan perguruan tinggi menghasilkan lulusan yang berkualitas dalam memasuki pasar kerja.
  3. Menjunjung tinggi kebebasan akademik dan mendorong inovasi teoritis.
  4. Adanya sejumlah program studi andalan dan mempunyai spektrum lengkap.
  5. Lebih berkonsentrasi pada program pascasarjana, khususnya program doktor.
  6. Sebagai tempat terciptanya pengetahuan baru sehingga merupakan sumber pemikiran, gagasan, teori dan teknologi baru.
  7. Memiliki warisan budaya.
  8. Mempunyai kontribusi dalam pembangunan sosioekonomi bagi negara /dan kawasan sekitarnya (Sumber : http//esihairani.blogspot.com/2009/01/perguruan-tinggi-menuju-wolrd-class.html).
Tujuan dari World University Ranking ialah mengetahui dan mengenali universitas-universitas sebagai organisasi multidimensi serta untuk menyediakan perbandingan secara global agar menjadi universitas berkelas dunia. Ada empat pilar kunci dari pendekatan world class university, yaitu research quality , teaching quality, graduate employability, dan international outlook. Research quality ialah indikator yang menunjukan seberapa baik publikasi hasil penelitian suatu universitas. Jika suatu universitas merupakan pusat keunggulan dari multidisiplin ilmu maka universitas tersebut akan dikenal seluruh dunia karena telah berkontribusi bagi kemajuan ilmu pengetahuan. Indikator ini juga dapat dilihat dari kualitas dan produktivitas penelitian yaitu banyaknya penelitian yang dipublikasikan, penghargaan yang diperoleh seperti penerima nobel maupun fields medal.

Teaching quality ialah seberapa baik metode pengajaran yang dilakukan termasuk fasilitas pengajaran. Graduate employability ialah indikator yang menunjukan seberapa baik lulusan universitas dapat bekerja dalam berbagai bidang serta seberapa besar gaji mereka. International outlook ialah indikator yang menunjukan apakah universitas dapat berkontribusi tidak hanya bagi negaranya tetapi juga bagi negara lain yang dilihat dari proporsi mahasiswa asing, mahasiswa asing, mahasiswa pertukaran pelajar, serta kekuatan hubungan internasional dengan universitas lainnya di seluruh dunia.
Hingga saat ini hasil peringkat perguruan tinggi di Indonesia yang dibuat oleh beberapa lembaga pemeringkat perguruan tinggi di dunia seperti Times Higher Education Supplement dari Majalah Times, Academic Ranking of World Universities oleh Universitas Shanghai Jiao Tong, China dan Webometric Ranking of World Universities oleh National Research Council, Spanyol, menempatkan perguruan tinggi teratas Indonesia tertinggal di belakang lembaga sejenis di negara-negara tetangga Asia Tenggara seperti Singapura, Thailand, maupun Malaysia. Hal ini menunjukkan bahwa bangsa Indonesia belum berhasil secara optimal menggunakan sumberdaya yang ada dalam menciptakan pendidikan yang berkelas dunia berdasarkan kriteria-kriteria lembaga pemeringkat internasional yang diakui.
Hasil penyusunan ranking yang disampaikan oleh Webometric Ranking of World Universities oleh National Research Council, Spanyol menunjukan bahwa dari 82 perguruan tinggi negeri di Indonesia hanya 4 (4,87%) yang masuk dalam 500 world class university. Adapun nama-nama perguruan tinggi di Indonesia yang masuk dalam kategori world class university dan Asia University Ranking dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Lima (5) Besar Perguruan Tinggi Di Indonesia Tahun 2009 (dari 5000 PT di dunia)

No Universitas Asia University Rangking Asia University Rangking
1. Universitas Indonesia 50 201
2. Universitas Gajah Mada 63 250
3. Institut Teknologi Bandung 80 351
4. Institut Pertanian Bogor 119 500+
5. Airlangga 130 400+
Sumber : Webometric Ranking of World Universities, 2010

Ketersediaan dana yang melimpah adalah ciri sebuah World Class University , karena tanpa dana yang memadai kegiatan ilmiah yang berkualitas tinggi tidak akan bisa dijalankan. Universitas-universitas kelas dunia biasanya memiliki tiga sumber dana, yaitu : (1) pemerintah, untuk dana operasional dan riset, (2) dana riset kontrak dengan perusahaan negara dan swasta, (3) pendapatan sendiri, dari sumber SPP mahasiswa dan dana abadi (endowment) dan dana hibah. Di Asia, National University of Singapore mempunyai dana abadi tertinggi sebesar 774 juta dolar yang didapatkan dari pengumpulan dana dari banyak pihak. Tabel berikut ini merupakan gambaran dana abadi beberapa universitas kelas dunia di AS dan Inggris.
Tabel 2. Perbandingan Dana Abadi Universitas Di Amerika dan Inggris

Lembaga Amerika Aset Dana Abadi Tahun 2006 Lembaga Inggris Aset Dana Abadi Tahun 2002
Harvard University 28.916 Cambrige 4.000
Yale University 18.031 Oxford 4.000
Standford University 14.085 Edinburgh 3.200
University of Texas 13.235 Glasgow 240
Priceton University 13.045 King's 200

Sumber :Mohamad Huda, 2009 :15

Jika kurs dolar terhadap rupiah dianggap Rp 10.000,00, Harvard University memiliki dana abadi lebih dari Rp 289 triliun, sedangkan King"s University memiliki dana abadi lebih dari Rp 2 triliun. Kondisi ini sangat jauh jika dibandingkan denganuniversitas di Indonesia. Pada tahun 2007, Universitas Indonesia yang menduduki ranking 201 dari 500 universitas di dunia dan ranking 1 di Indonesia hanya memiliki endowment Rp 840 milyar (Fasli Jalal, 2010). Dana abadi ini memungkinkan universitas merasa nyaman dan yakin dalam merencanakan pengembangan jangka menengah dan jangka panjang. Keberadaan dana ini akan menciptakan "lingkaran madu" yang manis, yaitu banyak mahasiswa, dosen, dan peneliti yang bagus berada di universitas tersebut. Hal ini berarti semakin banyak dana yang bisa diperoleh, berarti juga imbalan finansial lebih baik bagi para staf.
Dirjen Dikti mengakui bahwa unit biaya pendidikan tinggi di Indonesia masih sangat minim, yaitu sebesar Rp 8 juta per mahasiswa per tahun. Rendahnya unit biaya diakui menyulitkan penyelenggaraan pendidikan tinggi yang bermutu dan jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga Indonesia tertinggal jauh. Di Hongkong, besaran subsidi pemerintah mencapai Rp 240 juta per mahasiswa per tahun, Singapura Rp 150 juta. Proporsi biaya yang ditanggung pemerintah adalah 80 %, mahasiswa 10% dan Industri 10% (Kompas, 17 Desember 2008)
Menurut Salmi (2007) ada dua faktor utama yang harus disiapkan dalam rangka membuat World Class University, yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal dalam hal ini adalah pemerintah dan ketersediaan sumberdaya. Pemerintah harus membuat kebijakan-kebijakan yang mendukung terbentuknya World Class University. Sementara itu faktor internal adalah kepemimpinan dan visi strategis universitas itu sendiri. Selain itu juga perlunya memperhatikan faktor internasionalisasi.
Sejalan dengan pentingnya internasionalisasi menuju World Class University maka diperlukan terobosan program yang mampu menjembatani kondisi tersebut. Sejak tahun 2006 Departemen Pendidikan Nasional (Sekarang berubah menjadi Kementerian Pendidikan Nasional) melalui Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri (BPKLN) merintis program Beasiswa Unggulan (BU). Program ini sesuai Permendiknas No. 20/2009 tentang Beasiswa Unggulan, merupakan program beasiswa khusus dari pemerintah atau pihak lain, berupa bantuan biaya pendidikan kepada putra-putri terbaik bangsa indonesia dan mahasiswa asing terpilih. Selain itu, terdapat pula beasiswa yang dirancang khusus bagi para pencipta, peneliti, penulis, seniman, wartawan, olahragawan, dan tokoh (P3SWOT). Disamping itu salah satu target implementasi dari program Beasiswa Unggulan adalah mewujudkan Double Degree di program studi terpilih.
Program Double degree
Program kembaran atau gelar ganda (double degree) adalah penyelenggaraan kegiatan antar perguruan tinggi untuk melaksanakan suatu program studi secara bersama serta saling mengakui lulusannya. Program Beasiswa Unggulan dikembangkan untuk program double degree (gelar ganda) antara perguruan tinggi di dalam negeri dengan perguruan tinggi di luar negeri. Sehingga lulusan dari program ini akan memperoleh gelar ganda dan memiliki kemampuan plus dari program regular lainnya. Implementasi program double degree pada suatu program studi merupakan tahap awal dan langkah strategis dari suatu universitas untuk mencapai World Class University (WCU). Disamping itu, program ini merupakan salah satu strategi untuk memperbaiki mutu pendidikan perguruan tinggi di Indonesia.
Program double degree pada prinsipnya ditujukan untuk menstimulasi peningkatan mutu pendidikan lembaga perguruan tinggi di Indonesia, baik ditinjau dari aspek dosen (staf pengajar), mahasiswa maupun Kemdiknas pada umumnya. Program magister double degree dilaksanakan selama 4 semester. Mahasiswa wajib mengikuti perkuliahan semester I dan II di perguruan tinggi dalam negeri dan selanjutnya kegiatan perkuliahan/penelitian dan penyelesaian tugas akhir pada semester III dan IV dilaksanakan di perguruan tinggi mitra diluar negeri selama maksimal 12 bulan. Setelah selesai proses pembelajaran di kedua universitas tersebut, mahasiswa yang bersangkutan akan menerima ijasah.
Untuk melaksanakan program double degree/joint degree perguruan tinggi di dalam negeri wajib melakukan diskusi dan negosiasi dengan menggunakan berbagai media dalam melaksanakan kerja sama untuk menghasilkan Memorandum of Understanding (MoU) dan Dalam Memorandum of Agreement (MoA) atau Technical of Agreement (TA). Inti kesepakatan dalam MoU adalah program kerja sama antara perguruan tinggi yang terlibat dan ditandatangani pejabat setingkat rektor serta pelaksanaan kerja sama antar perguruan tinggi mengacu kepada Peraturan Mentri Pendidikan Nasional Nomor 26 Tahun 2007.
Dalam Memorandum of Agreement (MoA) atau Technical of Agreement (TA) memuat kesepahaman tentang kurikulum yang digunakan, jumlah mata kuliah yang wajib dilaksanakan, sistem satuan kredit transfer, format ijasah yang dikeluarkan dan rencana program yang akan datang. Technical of Agreement atau dokumen yang sejenis dapat ditandatangani oleh pimpinan perguruan tinggi. Melalui program double degree mahasiswa akan menjalani kuliah selama setahun di Perguruan Tinggi (PT) di Indonesia dan setahun di PT luar negeri (S2) atau tiga tahun di Indonesia dan setahun di luar negeri (S1). Mulai tahun 2008, program Beasiswa Unggulan dilaksanakan seirama dengan pelaksanaan Beasiswa Darmasiswa, yaitu beasiswa untuk mahasiswa asing yang mengikuti pendidikan di PT dalam negeri selama lebih kurang enam sampai dua belas bulan untuk pendidikan non degree terutama bidang bahasa Indonesia, budaya dan kesenian Indonesia.
Pendanaan
Alokasi anggaran dari APBN di Kemdiknas untuk pelaksanaan program Beasiswa Unggulan mengalami fluktuasi setiap tahunnya. Tahun 2006, saat pertama kali program ini dirintis, pemerintah menganggarkan dana Rp. 30,06 miliar, tahun 2007 Rp. 227 miliar, tahun 2008 Rp. 177,99 miliar tetapi dipotong Rp. 35,39 miliar sebagai akibat dampak kenaikan bahan bakar minyak sehingga hanya tersisa Rp. 142,60 miliar. Kemudian tahun 2009 turun menjadi Rp. 74 miliar dan tahun 2010 direncanakan naik menjadi 77,5 miliar, dengan rincian sebagai berikut :

Tabel 3. Pendanaan Beasiswa Unggulan 2006-2009 (dalam Milyar)

Tahun/th> Jumlah Anggaran
2006 Rp. 30,06
2007 Rp. 227
2008 Rp. 142,60 (termasuk dengan Darmasiswa)
2009 Rp. 77,5 (termasuk Darmasiswa)

Alokasi dana dari APBN di Kemdiknas untuk pelaksanaan program tersebut mengalami fluktuasi setiap tahunnya, hal ini dapat dilihat dengan lebih jelas pada gambar di bawah ini :

Foto
Ada sedikitnya 60 program studi di 31 PT di Indonesia baik negeri maupun swasta yang dilibatkan oleh Depdiknas dalam hal ini Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri untuk mengelola program tersebut. Hasilnya, tahun 2006 melalui seleksi ketat dan anggaran yang tersedia, ada 3.166 mahasiswa yang berhasil dibiayai dengan program tersebut termasuk 17.000 lebih mahasiswa program D3-TKJ.
Pada tahun 2007 sebanyak 3.227 mahasiswa terbaik telah dibiayai melalui program ini, berturut-turut kemudian tahun 2008 sebanyak 614 mahasiswa dari berbagai jurusan dan tahun 2009 ada 185 mahasiswa dan enam mahasiswa Palestina yang kuliah di Indonesia. Beasiswa Unggulan untuk mahasiswa Palestina ini sebagai bentuk kepedulian pemerintah Indonesia terhadap bangsa Palestina.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar